Lily Allen - Smile


Lily Allen - Smile

Kamis, 28 Oktober 2010

Study Kasus ISD ke-2

Jumat, 08/10/2010 10:37 WIB
 
Advertorial
 
Depok Mencetak Generasi Unggul Lewat Kota Layak Anak
Muhammad Ilman Akbar - detikBandung

Bandung - Keberhasilan pembangunan ditentukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM). Sementara kalitas SDM Indonesia sendiri ditentukan oleh Pembangunan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (KPA).

Hal itu diungkapkan oleh Deputi Tumbuh Kembang Anak, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Wahyu Hartomo.

Dinas Sosial Jawa Barat pada 2007 menunjukkan, 851.433 anak masih bermasalah. Porsi terbesar adalah masalah pekerja anak sebanyak 351.189 anak, anak terlantar 330.461 anak. Selanjutnya, balita terlantar 53.670 anak dan remaja putus sekolah 45.215 anak. Masalah lain adalah anak cacat 25.097 anak, anak nakal dan korban NAPZA 3.495 anak, anak jalanan 20.630 anak, dan anak korban kekerasan.

Artinya, diperlukan sebuah program yang bisa melindungi anak (usia 0-18 tahun). Oleh karena itulah, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan pada tahun 2005 menciptakan program Kabupaten/Kota Layak Anak, yang disingkat KLA.

KLA merupakan upaya pemerintah daerah untuk menghormati dan memenuhi hak-hak dasar anak, lewat kebijakan-kebijakan, institusi, dan program yang layak anak

Sebuah Kabupaten/Kota yang layak anak berarti anak mendapatkan akses pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan, tinggal di lingkungan yang sehat, terlindungi dari eksploitasi, kekerasan, dan penelantaran. Anak juga merasa aman berjalan di jalan, dapat bertamu dan bermain dengan teman-temannya, dan dapat berperan serta dalam kehidupan keluarga, lingkungan, dan sosial.

Warga Depok cukup dapat berbangga, karena pada Kongres Wanita tanggal 24 Desember 2008 di Hotel Bumi Wiyata Depok, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan saat itu Meutia Hatta menetapkan Depok sebagai Kota Layak Anak. Depok menyusul 15 kabupaten/kota sebelumnya yang telah menjadi Kota Layak Anak, di antaranya adalah Gorontalo, Jambi, dan Solo yang termasuk kota paling bagus dalam menerapkan konsep KLA.

Apa saja langkah yang dilakukan oleh Depok untuk menuju KLA? Pertama adalah komitmen pemerintah daerah yang meliputi Perda, kelembagaan dan anggaran. Kedua, membentuk Gugus Tugas. Gugus Tugas melibatkan semua elemen masyarakat di Depok, mulai dari birokrat, pengusaha, wartawan, LSM, akademisi, kalangan orang tua maupun anak. Selanjutnya, Gugus Tugas bertugas untuk membuat database anak dan permasalahan yang muncul. Ketiga, menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) selama 5 tahun. (sumber : www.depok.go.id)


Memang bukan sebuah pekerjaan yang mudah, tapi langkah langkah yang telah disebutkan ini harus terus berjalan. Program KLA ini buth jangka waktu panjang untuk mendapatkan hasilnya, 10 hingga 15 tahun. Tanpa pengawalan dan dukungan oleh semua lapisan masyarakat, program ini tidak akan berhasil. Apabila program KLA ini berhasil, akan tercipta generasi-generasi muda yang inovatif, kreatif, dan berkualitas unggul di masa depan.

(avi/avi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar