Lily Allen - Smile


Lily Allen - Smile

Minggu, 25 November 2012

Green Investing (BI SS 2012)

Green Investing atau dalam bahasa Indonesianya adalah Investasi Hijau. Di pasar modal istilah 'hijau' identik dengan keuntungan. Sedangkan istilah 'bursa menghijau' mengacu pada bursa yang harga-harga sahamnya naik, sehingga menghasilkan keuntungan ekstra bagi pemodal. Dalam lingkungab investasi global, istilah 'hijau' pada awalnya juga hanya mengacu pada satu petanda mata uang yang dianggap paling berpengaruh di antara mata uang kertas di seluruh dunia, yakni greenback alias dolar Amerika Serikat.

Kemudian istilah ini mulai bergeser dengan makna hijau lainnya, yaitu lingkungan. Ketika pada awal tahun 1990 Triodos Bank meluncurkan produk reksa dana berbasis lingkungan pertama di benua Eropa yakni Biogrond Beleggingsfonds. Walaupun agak terlambat dibandingkan dengan pasar modal yang berdiri seabad lebih sebelum itu, kehadiran produk investasi yang diputar ke perusahaan berkomitmen kelestarian alam ini menginspirasi ratusan produk serupa tidak hanya di Eropa namun juga di seluruh dunia.

Insipirasi yang kurang lebih sama mendorong Direktur Utama PT. Insight Investments Management, Tony Henri S meluncurkan produk reksa dana hijau, mengekor PT. Mega Capital Indonesia yang awal tahun 2010 menggandeng Yayasan Sri Kehati merilis reksa dana Mega Sri Kehati Harmoni. "Selama ini, perusahaan manajer investasi yang fokus mengembangkan reksa dana sosial dan lingkungan belum banyak. Kami ingin menjadi salah satunya, dengan melepas reksa dana hijau dalam waktu dekat," tuturnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Perseroan, selanjutnya tengah mengajukan izin kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk meloloskan reksa dana yang diberi nama Insight-METI Renewable Energy Fund tersebut. Konsep reksa dana ini cukup sederhana. Biaya management fee sebesar 1,75% per tahun dari Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana akan dibagi dua, yakni 1% untuk Yayasan Energi Lestari dan 0,75% sisanya untuk manajer investasi. Dana tersebut akan digunakan untuk memberi kontribusi upaya implementasi energi terbarukan di Indonesia, melalui kegiatan-kegiatan berupa promosi, advokasi, studi/analisis, maupun aplikasi langsung di lapangan.
 
"Upaya tersebut selain untuk membantu program ketahanan energi nasional juga dimaksudkan sebagai upaya riil mengurangi laju perubahan iklim global, menekan laju emisi gas rumah kaca," papar Tony. Direktur Insight Investment Andjaja M. menambahkan produk investasi keuangan dan lingkungan hidup tersebut akan ditawarkan hingga mencapai 1 miliar unit penyertaan. Dengan nilai tiap Rp1.000, dana yang bisa dikelola mencapai Rp1 triliun.

Perseroan menargetkan meraup dana kelolaan sebesar Rp300 miliar dari produk reksa dana terbaru tersebut. Dengan asumsi batas maksimal Rp1 triliun tercapai, maka akan ada dana Rp10 miliar per tahun yang didedikasikan untuk pengembangan energi terbaru. 

Potensi sponsor 
Namun di balik rencana mulia tersebut, Tony tentu saja tidak lupa berhitung. Meluncurkan produk investasi tanpa pasar yang besar sama saja dengan tindakan bunuh diri. Manajemen Insight jauh-jauh hari mengukur pasar produk reksa dana lingkungan ini. Hasilnya, potensi pemilik dana yang bisa menjadi sponsor reksa dana hijau di Indonesia jumlahnya ratusan, dengan nilai dana mencapai Rp2 triliun. Dana kelolaan di pasar sekunder berpotensi meningkat lagi seiring dengan meningkatnya investor peminat isu lingkungan dan pemanasan global.

Dana-dana tersebut terutama berasal dari program kepedulian sosial (corporate social responsibility/ CSR) perusahaan pertambangan dan perkebunan di Indonesia, yang belum difokuskan untuk menjadi dana lingkungan berkelanjutan. "Di Indonesia ada 100-200 perusahaan tambang dan perkebunan. Dengan perkiraaan dana CSR mereka berkisar Rp5 miliar-Rp10 miliar per tahun, ada potensi green fund sebesar Rp500 miliar-Rp2 triliun di Indonesia," tutur Tony.

Selama ini, dana-dana lingkungan di perusahaan besar tersebut dikucurkan untuk membiaya program lingkungan yang bersifat sesaat, dan bukannya dikembangkan menjadi dana lingkungan yang berkelanjutan. Padahal idealnya, dana CSR tersebut dikembangkan menjadi sebuah 'dana abadi' yang memiliki program jangka panjang dan bukan sekadar menjadi pemanis laporan tahunan di neraca perseroan. 

Gayung dari Tony tersebut bersambut, tiga perusahaan besar telah berkomitmen menjadi sponsor disusul beberapa perusahaan lainnya, di antaranya PT. Bank Negara Indonesia Tbk dan PT. Medco Energy Tbk. Komisaris Utama Medco Hilmi Panigoro terang-terangan mengakui siap mendorong produk investasi untuk pengembangan energi bersih dan terbarukan di Indonesia, melalui Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan Yayasan Energi Lestari.

"Produk ini diharapkan menarik investasi dalam pengembangan energi bersih dan terbarukan nasional serta mengurangi ketergantungan terhadap fosil energi dan dampak negatif perubahan iklim global," jelasnya. Selain berkomitmen sebagai sponsor, BNI juga akan bertindak sebagai bank kustodian reksa dana tersebut. Jika produk ini berhasil diluncurkan, Insight Investment melengkapi dua reksa sosialnya yakni reksa dana pendapatan tetap haji syariah untuk masyarakat kurang mampu, dan reksa dana campuran guru untuk kesejahteraan guru. Dengan 'insight' mengerem laju pemanasan global, perusahaan pengelola dana ini berambisi mengoptimalkan dana hijau di Indonesia yang mencapai Rp2 triliun tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar