Lily Allen - Smile


Lily Allen - Smile

Minggu, 10 Februari 2013

Jebolnya Keamanan Website Presiden (BI SS 2012)



Siapa yang bisa menyangka seorang lulusan SMK jurusan Teknologi Pembangunan yang tinggal jauh dari Ibukota yaitu Jember mampu meretas situs sang kepala negara? Terlebih dalam riwayat akademiknya sang pelaku tidak pernah meraih ranking, bahkan masuk peringkat 10 besar saja tidak pernah. Kemampuan di bidang komputernya pun biasa-biasa saja, berdasarkan penuturan teman-temannya sewaktu di sekolah.

Pelaku peretas situs yang beralamat http://www.presidensby.info pada hari Rabu tanggal 9 Januari 2013 meninggalkan jejak "Jember Hacker Team" di halaman muka situs tersebut. Bila ditelisik dari alamat IP-nya, bukan berasal dari Indonesia  melainkan Texas, Amerika Serikat. Hingga pada akhirnya pelaku ditangkap di sebuah warnet yang terletak di Jember baru-baru ini.

Dengan ancaman 12 tahun penjara atau denda sebesar 12 miliar rupiah, rasa-rasanya hukuman tersebut tidak sebanding dengan tindakan pencurian, korupsi apalagi pembunuhan. Memang tindakan meretas juga bisa membahayakan, akan tetapi bila melihat apa yang dilakukan sang pelaku hanya sebatas merubah tampilan situs dengan tidak menyebarkan beberapa informasi yang bersifat penting dan rahasia kepada pihak lain yang bisa membahayakan kondisi negara kedepannya.

Seharusnya pelaku tetap diganjar hukuman namun jangan sampai seberat itu. Lihat saja dari sudut pandang lain dengan adanya peretas yang berhasil menjebol situs SBY, pihak web master bisa lebih waspada lagi dari segi keamanan sebuah situs yang dirancangnya dan dicari titik kelemahannya seperti apa, sehingga tidak akan terulang kembali kejadian serupa.

Bila melihat kejadian ini, pikiran naif penulis pun timbul. Seseorang yang sudah jelas-jelas membunuh saja pada kecelakaan lalu lintas kok tidak diadili walau tanpa sengaja, apalagi ini yang hanya menembus sistem keamanan situs dan cuma merubah tampilan halaman muka saja kok seberat itu hukumannya. Lagi-lagi keadilan hanya berlaku bagi rakyat kecil dan tidak berlaku bagi yang bergelimangan materi maupun sanak keluarga yang berhubungan dekat dengan sang kepala negara.

Sebenarnya ada letak kesalah kaprahan mengenai peretas atau biasa disebut Hacker dalam Bahasa Inggris. Selama ini citra Hacker adalah seorang yang bisa menembus sistem keamanan suatu situs hingga akhirnya merusak suatu sistem yang dampaknya akan mengancam terhadap seseorang bahkan suatu negara. Padahal ada sebutan yg pas untuk itu yaitu Cracker! Bedarasarkan sumber informasi yang penulis dapat, Hacker adalah orang yang mengetahui apa yang dilakukannya, menyadari seluruh akibat dari apa yang dilakukannya, dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Sementara Cracker adalah orang yang tahu apa yang dikerjakannya, tetapi seringkali tidak menyadari akibat dari perbuatannya. Dan ia tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah diketahui dan dilakukannya itu. Jadi berdasarkan perbedaan tersebut, sudah jelas sang pelaku bukanlah Hacker melainkan Cracker. Seperti halnya mitos dalam dunia gaib ada yang tergolong jin baik dan jin jahat, sama halnya dengan dunia keprofesian Teknologi Informasi.
 
Semoga saja pelaku bisa diadili "sewajarnya", bila memang ada niatan baik dari pemerintah alangkah bijaknya bila mendidik dan merekrutnya ke dalam tim situs tersebut atau di tempat manapun. Mengingat pelaku mempunyai talenta ke arah bidang Teknologi Informasi dan baiknya diarahkan agar menjadi pribadi yang cerdas agar bisa bermanfaat bagi institusi terkait dan memilki komitmen yang tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar