Lily Allen - Smile


Lily Allen - Smile

Sabtu, 11 Mei 2013

Ketidakpastian Harga BBM Bersubsidi

Rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan beragam opsi terkait BBM beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa pemerintah tidak memiliki strategi dan rencana kebijakan yang kokoh terhadap BBM bersubsidi.

"Pemerintah membiarkan masyarakat terombang-ambing dalam ketidakpastian, wacana kenaikan BBM telah membuat keresahan sosial dan membuat aktivitas ekonomi masyarakat terganggu. Situasi ini menunjukkan bahwa Pemerintah kurang baik dalam melakukan antisipasi dan perencanaan pengelolaan BBM bersubsidi," kata Rofi selaku anggota Komisi VII dalam keterangan tertulisnya.

Rencana kenaikan harga BBM bersubsidi belum pasti direalisasi awal Mei ini menyusul pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahwa harga BBM baru akan dinaikkan setelah dana kompensasi siap. Adapun realisasi kompensasi setelah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013 disetujui oleh DPR.

Rofi menambahkan, sebenarnya saat ini pasar butuh kepastian, masyarakat butuh psikologis daya beli yang baik dan pertumbuhan ekonomi harus terus berjalan dengan suplai energi yang sifatnya berkelanjutan dan terbarukan. Namun kenyataan itu selalu tidak pernah disadari dengan baik oleh Pemerintah, sehingga bertahun-tahun menjadikan BBM sebagai komoditas tanpa memikirkan pilihan energi alternatif yang lain.

"Sehingga ketika subsidi BBM menjadi besar karena pengelolaan energi yang buruk, justru masyarakat yang harus menanggung bebannya langsung," jelasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laju inflasi pada April 2013 tercatat sebesar minus 0,1 persen month-to-month (mom) atau 5,57 persen year-on-year. Diyakini jika BBM jadi dinaikkan oleh Pemerintah maka akan mengerek inflasi ke angka yang lebih tinggi lagi, mengingat kenaikan tersebut akan berpengaruh langsung kepada harga beragam komoditas pokok masyarakat.

"Kenaikan BBM akan memberatkan masyarakat kecil, karena beragam komoditas akan ikut naik secara bersamaan. Perencanaan pemerintah terkait kebijakan BBM bersubsidi sangat lemah, sehingga rakyat dibebankan," tegas Rofi.

Lanjut Rofi mengungkapkan, terkait kompensasi jika Pemerintah tetap berniat menaikkan harga BBM subsidi, maka pengalihan dana tersebut harus meminta persetujuan dan menjelaskan secara rinci kepada DPR, karena menyangkut penggunaan APBN. "Penjelasan ini diperlukan untuk mengetahui seberapa besar pengalihan kompensasi, kepada sektor apa saja, beserta indikator pencapaiannya yang jelas," katanya.

Sekadar informasi, pemerintah berencana menyiapkan bentuk-bentuk pemberian kompensasi atas kenaikan harga BBM bersubsidi untuk disampaikan ke DPR. Kompensasi yang disiapkan antara lain transfer dana tunai melalui bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM), penyaluran beras bersubsidi, beasiswa dan Program Keluarga Harapan (PKH).

IHSG selama sepekan turun signifikan. Padahal, indeks sempat menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Ketidakpastian harga BBM bersubsidi jadi pemicunya.Pelemahan ini berasal dari ketidakpastian kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Lalu, adanya revisi peringkat utang Indonesia yang disampaikan Standard & Poor’s (S&P), akibat ketidakpastian rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Semua kondisi itu membuat kondisi IHSG semakin suram.

“Padahal saat itu, bursa saham AS dan Eropa dan bahkan Asia sedang hijau-hijaunya. Selama sepekan asing mencatatkan nett sell sebesar Rp398,26 miliar atau lebih rendah dari pekan sebelumnya sebesar Rp475,97 miliar,” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada,Jakarta, Minggu (5/5/2013).

Menurut Reza, IHSG selama sepekan mengalami penurunan 53,03 poin (1,07%) melanjutkan penurunan lebih dalam dari sebelumnya 19,95 poin (0,40%). Pelemahan ini, diikuti dengan merahnya indeks utama lainnya dimana indeks MBX memimpin penurunan 1,08% dan diikuti indeks LQ45 dan DBX yang masing-masing melemah 0,99% dan -0,90%.

Hanya indeks Jakarta Islamic Index (JII) yang positif sebesar 0,12%. Di sisi lain, indeks sektoral bergerak melemah dimana hanya tiga sektor yang menguat, yaitu konsumer naik 4,80% dan diikuti oleh indeks manufaktur (1,04%), dan industri dasar (0,40%).

Analis PT Panin Sekuritas, Purwoko Sartono menuturkan, IHSG pada perdagangan terakhir pekan lalu ditutup melemah tajam. Penurunan indeks terjadi di tengah menguatnya sebagian bursa regional Asia menyusul sentiment positif dari langkah ECB menurunkan suku bunga di Eropa.“Kami melihat minimnya sentimen positif serta revisi outlook peringkat utang Indonesia oleh S&P, dari positif menjadi stabil, menjadi pendorong turunnya indeks,” kata Purwoko.

Lebih lanjut Purwoko mengatakan, hal ini menjadi highlight untuk investor asing dalam beberapa waktu mendatang. Tampaknya mereka masih akan wait and see hingga pemerintah mengumumkan kebijakan harga BBM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar