Lily Allen - Smile


Lily Allen - Smile

Jumat, 05 Juli 2013

Kenaikan Harga BBM & Daya Beli Masyarakat

Pemerintah harus mewaspadai daya beli masyarakat yang turun akibat rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebentar lagi. Sebab, rencana menaikkan harga BBM bersubsidi ini akan menimbulkan kenaikan inflasi hingga 7,5 persen secara tahunan.

Asumsinya, setiap kenaikan harga BBM 10 persen, akan menimbulkan tambahan inflasi 0,7 bps. Jika pemerintah jadi menaikkan harga BBM bersubsidi untuk premium Rp 2.000 per liter dan solar Rp 1.000 per liter, ada asumsi inflasi bertambah menjadi 2,5 pada akhir tahun.

Adapun target inflasi pemerintah di akhir tahun ini sekitar 4,9 persen sehingga kemungkinan inflasi bisa mencapai sekitar 7,5 persen di 2013. "Tentu ini (kenaikan harga BBM bersubsidi) pasti ada dampak, khususnya terhadap daya beli masyarakat. Biasanya setiap harga BBM naik, ekonomi cenderung stagnan dalam 6-9 bulan ke depan," kata Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Perekonomian Jakarta, Selasa (14/5/2013).

Saat ini, kekhawatiran terhadap inflasi yang melonjak akan menjadi fokus pemerintah dan Bank Indonesia untuk bisa menjaga inflasi sesuai targetnya. Sebab, bagaimanapun, pemerintah telah mengantisipasi kenaikan harga BBM bersubsidi ini dengan mewaspadai kenaikan harga bahan pangan di segala sisi.

"Jika inflasi sekitar 7,5 persen, BI pasti merespons akan menaikkan suku bunga acuan BI (BI Rate). Namun, saya tidak tahu kapan BI akan mengubah BI Rate-nya," lanjutnya. Saat ini pun, pemerintah juga masih gamang untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, termasuk dalam sisi waktu yang tepat. Sebab, dalam dua bulan ini, risiko inflasi semakin tinggi akibat ada liburan panjang sekolah, rencana puasa Ramadhan, dan jelang Lebaran. 
 
Dan di Bandung, sejumlah pedagang di pasar tradisional mengeluhkan turunnya penjualan akibat melemahnya daya beli masyarakat terhadap beberapa komoditas strategis. Di sisi lain, mereka juga semakin sulit karena waktu untuk menjual sejumlah komoditas menjadi lebih lama dan untuk menjaga kualitas komoditas mesti mengeluarkan biaya lebih. Contohnya untuk komoditas daging ayam, beberapa ekor ayam yang tidak laku mesti dibekukan agar dapat dijual pada keesokan harinya. Bagi sejumlah pedagang, membeli es mesti mengeluarkan biaya operasional yang tidak sedikit. Selain itu, harga dari distributor pun telah mengalami kenaikan.
 Ketua Persatuan Pedagang dan Warung Tradisional (Pesat) Jabar mengatakan, daya beli masyarakat saat ini turun hingga 50 persen dan hal tersebut berpengaruh langsung terhadap turunnya omzet para pedagang di pasar tradisional. “Dari menjelang kenaikan harga BBM bersubsidi hingga saat ini, secara perlahan tapi pasti daya beli masyarakat terus mengalami penurunan. Penyebabnya, mereka tidak mampu mengimbangi harga komoditas strategis dengan anggaran keuangan yang mereka miliki,” katanya kepada “PRLM” di Bandung, Jumat (28/6/2013).

Ia juga mengkritisi komentar pihak kementerian perdagangan yang mengatakan, kenaikan harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok merupakan kenakalan para pedagang di pasar tradisional. “Pemerintah mesti melihat lebih jeli dan turun ke lapangan, realitasnya adalah harga sudah naik dari tingkat distributor. Alih – alih mengeluarkan komentara seperti itu, pemerintah mestinya melakukan sejumlah upaya untuk kembali menstabilkan harga,” kata Usep.

Dirinya mengilustrasikan, saat ini harga daging ayam telah mengalami kenaikan dari kisaran Rp 24.000/ kg menjadi Rp 30 – 35.000/ kg. Ia menjelaskan, kenaikan telah terjadi sejak di tingkat distributor bahkan dari kandangnya saja sudah mengalami kenaikan dari kisaran Rp 14 – 17.000/ ekor menjadi Rp 21.000/ ekor. “Kenaikan harga ayam tersebut telah terjadi sejak diberlakukannya kenaikan harga BBM bersubsidi beberapa hari lalu,” tutur Usep.

Salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Tradisional Cihaurgeulis, Wagiah mengatakan, penjualannya turun tidak kurang dari 50 persen bila dibandingkan dengan kondisi normal. Turunnya penjualan sudah dirasakan mulai pertengahan Juni lalu, yakni sebelum pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi. Setelah harga dinaikan, penurunan bahkan lebih parah lagi karena harga kebutuhan pokok naik sementara keuangan masyarakat sangat rendah karena sudah digunakan untuk membeli peralatan sekolah pada momen kenaikan kelas.

Menurut dia, saat ini harga daging ayam telah mencapai Rp 33.000/ kg. Sebelum mengalami kenaikan, yakni pada pertengahan Juni lalu, harganya masih berada pada kisaran Rp 28.000/ kg. Pedagang daging sapi di pasar tersebut, Hasan mengatakan, saat ini harga komoditas tersebut telah menembus angka Rp 90.000/ kg dari harga awal Rp 85.000/ kg. Dirinya memperkirakan, harga masih akan terus naik hingga di kisaran Rp 110.000/ kg. “Saat ini saja daya beli masyarakat sudah turun tidak kurang dari setengahnya. Saya biasanya bisa menjual sebanyak 50 kg/ hari, namun pada beberapa hari terakhir ini paling banyak hanya bisa menjual 20 kg/ hari,” katanya. Menurut Usep, kenaikan harga sejumlah komoditas pokok di pasar tradisional murni disebabkan kenaikan harga BBM dan tidak ada peran para pedagang yang melakukan spekulasi. “Dari sisi pasokan juga lancar – lancar saja. Akan tetapi, harganya sangat mahal,” katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar